Pendakian Gunung Papandayan; Keseruan, Keindahan dan Rincian Biaya

By Didy - 8/26/2018


It's been a long time that I don't update this blog (almost one month BTW, normally I update once a week hehehe). Karena kesibukan yang mendera (ceelah sok sibuk). Akhirnya, hari ini saya coba update blog ini dengan tulisan-tulisan yang semoga bermanfaat, at least bisa jadi referensi jalan-jalan kalian atau mungkin cuma sekedar bacaan dikala senggang setelah bosan stalker timeline Instagram mantan ckckck.

Banyaknya DM-an Instagram setelah upload beberapa foto pendakian Gunung Papandayan pada 17 Agustusan lalu membuat saya semangat untuk share tulisan ini. Terlebih untuk kamu yang lost and no guidance at all  tentang Si Papandayan ini. Banyak dari teman-teman yang terkesima dengan pesona keindahan gunung ini tapi agaknya sedikit takut melakukan pendakian ke Papandayan, karena banyaknya omongan dari para netizen yang bergumam kalaulah Si Papandayan ini sekarang berstatus gunung mahal untuk didaki, padahal banyak dari teman-teman yang ber-budget pas-pasan (kayak saya) pengen sekali mendakinya.

Iya kan ?, hayo ngaku ?.


Gunung dengan tinggi 2.622 MDPL ini kerap dijadikan pilihan pendakian. Alasannya pun beragam, seperti misalnya tidak diperlukan banyak waktu untuk menuju gunung ini dari kota asal (JABODETABEK+Serang yah), rute pendakian yang tidak terlalu sulit sehingga cocok untuk pendaki pemula yang ingin berlatih mendaki,  hingga singkatnya waktu pendakian dari post pendaftaran ke tempat camp.

Alasan lainnya yang juga kerap memicu para pendaki adalah karena ingin menyaksikan eksotisme Hutan Mati dan melihat langsung indahnya hamparan bunga Eidelweis di Tegal Alun. 

Sebenarnya alasan terakhir lah yang sangat mengintimidasi saya untuk melakukan pendakian ke Gunung Papandayan ini. Bayangkan saja, hanya dengan mengetik kata kunci "Gunung Papandayan" di Mbah Google, ratusan foto-foto menakjubkan tentang hutan mati dan tegal alun ini berhamburan muncul. Ditambah lagi #Papandayan di Instagram juga sukses memunculkan ribuan gambar yang turut meracuni saya untuk melakukan pendakian ini.

Nah, di tulisan kali ini saya coba bagi menjadi 3 part penting dalam pendakian saya 17 Agustus lalu. Keseruan, Keindahan dan Rincian Biaya;

Keseruan

Awalnya saya benar-benar gak ada niatan buat naik Gunung Papandayan (I'M SERIOUS, I SWEAR), karena sebelumnya ada teman yang ingin berkunjung ke Baduy pas agustusan dan meminta saya menjadi guide mereka karena tidak ada satupun dari mereka yang pernah ke Baduy. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan saja kalau saya bisa menjadi guide mereka ke Baduy. Buat yang beneran belum tau suku baduy dan keunikannya bisa baca tulisan saya tentang Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Suku Baduy. 

Walaupun pada beberapa hari sebelum hari H mereka membatalkan tidak jadi berangkat, agak sedikit kecewa sih hehe, karena saya ingin sekali kesana dengan mereka untuk mengajak mereka melihat langsung seperti apa kehidupan dan keunikan suku baduy (promosi terus hahaha).

Eh tapi yaudahlah, berhubung tanggal 17 Agustus adalah tanggal merah dan letaknya strategis di hari jumat saya tetep memutuskan untuk tetap jalan ke suatu tempat, bermodalkan googling buat cari informasi tempat yang enak buat dikunjungin di short weekend. Dan akhirnya, pilihan jatuhlah ke Gunung Papandayan, yeayyy !!.

Singkat cerita berangkat lah saya pada kamis malam menuju Jakarta, dikarenakan bus Serang-Garut hanya sampai jam 18.00. Dan betapa terkejutnya saya ketika sampai di Pool Damri Cililitan ternyata buanyak sekali orang-orang yang ingin menaiki bus tujuan Jakarta-Garut, sampai-sampai tiket bus tujuan Jakarta-Garut dibagi dalam 3 warna tiket. Astaga, mau nunggu sampai jam berapa ini (teriak saya dalam hati). 



Banyak dari pemudik dan para pendaki yang hendak mendaki Gunung Papandayan dan Gunung Guntur mengurungkan niatnya dan kembali ke rumah masing-masing karena sampai jam 12 malam masih belum mendapatkan bus tujuan masing-masing, sama halnya dengan saya yang baru bisa mendapatkan bus tujuan Jakarta-Garut jam 3 pagi hahaha (tetap sabar menunggu).

Perjalanan Jakarta-Garut lumayan padat merayap, saya sampai garut sekitar jam 8 pagi. Rute yang saya ambil bukan via Terminal Guntur, Garut karena saya dan satu teman Couchsurfing yang baru saya temui saat itu memutuskan untuk istirahat dulu di bengkel salah satu temannya yang juga akan ikut naik ke Gunung Papandayan bersama.

Setelah istirahat sebentar dan packing ulang carrier masing-masing kami langsung menuju ke angkutan yang akan membawa kami sampai ke gerbang pos papandayan. Total orang yang akan mendaki bersama pada hari itu berjumlah 7 orang, Saya, Lydia (teman chat di Couchsurfing), 2 orang temannya Lydia dan 3 anak SMA yang kami temui di jalan dan mengajak kami patungan demi menghemat biaya perjalanan.

Tidak butuh waktu lama dari Bengkel ke gerbang pos papandayan, kayaknya hanya sekitaran 1 jam saja dan kami pun sudah sampai. Wait, ada cerita lucu yang ingin saya ceritakan ketika sampai di Simpang Cisurupan. Tiba-tiba saja mobil kita diberhentikan abang-abang yang mukanya agak serem dan memaksa angkutan umum yang sudah kami sewa untuk berhenti sampai situ saja dan dilarang membawa kami sampai ke pos pendaftaran papandayan. Mereka menginginkan kami untuk berganti mobil kap terbuka milik mereka, ini sudah peraturannya kata mereka.

Namun karena si sopir juga asli orang sana dan mengerti bahasa setempat, akhirnya si sopir mencoba nego untuk tetap membawa kami kesana dengan alasan kami sudah malas berganti-ganti angkutan dan pindah-pindahin barang, akhirnya negosiasi mereka pun mencapai kesapakatan. Si sopir tetap boleh mengantar kami sampai pos pendaftaran dengan satu syarat kami harus membayar 50,000 rupiah sebagai uang keamanan. Huft, baiklah kami pun langsung membayar dan malas berdebat.



Sesampainya di gerbang pos pendaftaran kami langsung dimintai data untuk keperluan SIMAKSI (surat ijin memasuki kawasan konservasi) yang gak terlalu ribet kayak pas naik Gunung Semeru atau Gede Pangrango. Disini kita hanya wajib membayar biaya 30,000 rupiah untuk tiket masuk dan 35,000 rupiah per malam (per orang lokal). Dalam hati langsung bergumam " apa bener ya yang dikatakan netizen kalau Papandayan ini memang gunung mahal"

Setelah mendapatkan surat izin dan beres semua urusan administrasi kami pun istirahat sebentar untuk makan siang sebelum melakukan pendakian. Dari pengamatan saya, nampaknya Gunung Papandayan sekarang sudah mulai bagus dan sangat lengkap fasilitasnya semenjak diambil alih pihak swasta, mungkin ini juga yang menyebabkan agak sedikit mahal jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah dan Timur.

Keindahan 

Sekitar jam 1 siang kami pun bergegas untuk memulai pendakian, tidak lupa kami berdoa dan meneriakan kata-kata semangat sebelum memulai pendakian. Setelah dari pos pendaftaran kami langsung menuju gerbang pendakian Gunung Papandayan yang Instagramable sekali buat foto-foto bersama hehehe.

Jalanan yang kami lalui pun sudah sangat bagus dan beraspal, putus dari jalanan aspal awal kami langsung disambut jalanan berbatu-batu besar, eits tapi jangan khawatir karena pihak pengelola sudah membuatkan anak-anak tangga yang rapi hingga ke pos 7 (kawasan belerang).



Jangan khawatir pokoknya jalur pendakian ke puncak Gunung Papandayan ini sangatlah mudah dan aman untuk pendaki pemula. Selain itu, sepanjang perjalanan menuju ke tempat camp terakhir yaitu Camp Pondok Saladah juga banyak tersedia warung-warung yang berjualan aneka makanan dan minuman sepanjang perjalanan jadi kamu gak usah khawatir akan kehausan dan kelaparan karena malas buka-buka logistik di tas carier kamu, untuk urusan toilet bahkan musholla pun juga tersedia di beberapa spot jalan jadi benar-benar sangat oke untuk kamu yang baru mulai belajar beradaptasi naik gunung.

Setelah melewati pos 7 yang mana disini terdapat kawah-kawah belerang yang indah dengan bebatuan berwarna kuning kecoklatan, kami memutuskan untuk memilih jalur Ghober Hut dan Pondok Saladah karena cenderung lebih aman dibandingkan jalur Kali Mati yang curam.


Untuk lama perjalanan dari pos pendaftaran ke camp pondok saladah hanya butuh waktu lebih-kurang 2-3 jam tergantung seberapa sering beristirahat. Sepanjang perjalanan saya begitu bersyukur bisa mendaki Gunung Papandayan walaupun tidak sesuai rencana upacara 17 Agustusan di Puncak hehe.

Sepanjang perjalanan menuju puncak kami disambut dengan pepohonan rindang hijau khas gunung  yang menyejukkan mata, ditambah lagi hamparan perbukitan dan jurang-jurang serta sungai-sungai menambah kenikmatan menaiki sebuah gunung terlebih untuk kamu saya yang sudah penat dengan suasana kemacetan ibu kota. Untuk pilihan camp sendiri, kamu bisa memilih antara Ghober Hut atau Pondok Saladah. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, misalnya di Ghober Hut kamu bisa menyaksikan indahnya sunrise papandayan sedangkan di pondok saladah kamu akan lebih dekat dengan hutan mati dan tegal alun.



Kami memilih pondok saladah sebagai tempat kami nge-camp karena lebih luas dibandingkan dengan ghober hut, tenang saja jarak antara ghober hut dan pondok saladah gak terlalu jauh kok jadi kalaupun kamu memilih pondok saladah sebagai tempat kamu nge-camp, kamu akan tetap bisa menikamati sunrise papandayan dari ghober hut asalakan kamu bangun subuh-subuh ya wkwkwk.

Esok hari setelah satu malam menginap di camp pondok saladah kami pun bergegas menuju hutan mati dan tegal alun setelah sudah terlebih dulu menyaksikan keindahan sunrise papandayan dari ghober hut. Perjalanan menuju hutan mati sangatlah dekat dari camp pondok saladah mungkin hanya 15-20 menitan saja, dan voilla eksotisme hutan mata sudah terbentang di depan mata. Wooow benar-benar sungguh indah pemandangan hutan mati ini dan terkesan mistis karena kayu-kayu yang mengering dan mati akibat letusan gunung papandayan beberapa tahun lalu.


Puas berfoto-foto dan menyusuri setiap sudut hutan mati kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke tegal alun, tempat dimana hamparan eidelweiss berada. Rute perjalanan menuju tegal alun cukup susah karena harus terus menanjak di jalan-jalan berbatu sempit, kayaknya ini rute tersuilitnya papandayan sih menurut saya, tapi tenang saja karena semua akan terbayar ketika kamu sampai di hamparan eidelweiss yang super cantik memikat mata.


Selesai berfoto-foto dan menikmati keindahan pondok saladah kami pun bergegas kembali ke camp untuk bersiap-siap turun dan kembali ke dunia nyata masing-masing hehehe. Secara keseluran saya sangat bahagia bisa melakukan pendakian ke gunung papandayan ini. Dari pendakian ini, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang sebuah pendakian dan teman-teman pendakian yang belum pernah ketemu satu-sama lain sebelumnya. 

Rincian Biaya

Ini bagian yang agak sensitif ya hehehe, tapi tidak apa-apa saya akan mencoba merinci sejujur-jujurnya biaya pendakian ke gunung papandayan, memang agak sedikit mahal kalau dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di jawa tengah dan jawa timur tapi menurut saya hal ini sebanding kok dengan fasilitas yang memadai disana, seperti misalnya; jalanan yang semuanya sudah bagus dan aman, adanya toilet (meskipun hampir semuanya disediakan kotak berbayar) di hampir sepanjang rute perjalanan, warung-warung juga tersedia, musholla, tempat sampah (gak usah bawa turun sampah kita karena sudah ada semacam TPA di pondok saladah dan ada pengurusnya juga).









Baiklah inilah rinciannya asumsi untuk 15 orang (supaya lebih hemat);

Berangkat

  • Tiket bus Primajasa (Jakarta - Garut): Rp. 52,000
  • Sewa mobil Terminal Guntur Garut - Simpang Cisurupan: Rp. 20,000 (Rp. 300,000 per 15 orang)
  • Sewa mobil kap terbuka Simpang Cisurupan - Pos Papandayan: Rp. 20,000 (Rp. 300,000 per 15 orang)
  • Tiket masuk: Rp. 30,000
  • Tiket berkemah: Rp. 35,000
  • Logistik: Rp. 70,000 per orang

Pulang

  • Sewa mobil kap terbuka Pos Papandayan - Simpang Cisurupan: Rp. 20,000 (Rp. 300,000 per 15 orang)
  • Sewa mobil terbuka Simpang Cisurupan - Terminal Guntur: Rp. 20,000 (Rp. 300,000 per 15 orang)
  • Tiket Bus Primajasa Garut - Jakarta: Rp. 52,000 

Total Pengeluaran: Rp. 319,000

Rincian Waktu

  • Jakarta (Pool Bus Primajasa Cililitan) - Terminal Guntur: 4-6 jam
  • Terminal Guntur Garut-Simpang Cisurupan: 45-60 menit
  • Simpang Cisurupan-Papandayan: 45 menit

Saran 

  1. Rincian biaya tersebut adalah untuk perorangan apabila berangkat ber-15 orang patungan. Silahkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
  2. Rincian tersebut juga belum termasuk biaya jajan di pondok saladah jika kalian malas masak (hanya iuran logistik saja), biaya toilet dan biaya berfoya-foya pribadi.
  3. Berangkatlah sekitar jam 22.30 jumat malam dari Pool Bus Primajasa Cilitan sehingga kamu akan sampai pada keesokan harinya di Terminal Guntur Garut, atau bisa juga berngkat dari Terminal Lebak Bulus atau Kampung Rambutan, silahkan pilih saja dekat yang mana.
  4. Jika ingin menggunakan kembali Bus Primajasa untuk balik ke Jakarta usahakan sudah berada di Terminal Guntur Garut Jam 16.00, selepas jam tersebut bisa pilih bus lain.
  5. Jangan lupa membawa semua peralatan pendakian gunung dan masker karena bau belerang.
Itulah sedikit cerita, saran dan rincian biaya untuk kamu yang hendak mendaki papandayan semoga berguna dalam perencanaan perjalanan kamu.

Selamat menikmati perjalanan ke Gunung Papandayan :).

 
























  • Share:

You Might Also Like

11 comments

  1. Tetap semangat ya, meski kadang aktivitas ngeblog terkendala pekerjaan dan kesibukan.
    Akupun juga gitu, mas.

    Bermanfaat kok panduan ke gunung Papandayan, suka aku bacanya 👍.

    Speecless lihat foto mulai dari sunset sampai foto di edelweis ..., kece banget viewnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas padahal biasanya update seminggu sekali sih hehhehe. Kemaren2 lagi repot banget (plus agak males) wkwkkw. Makasih semoga berguna juga buat yg lain yg pengen daki Papandayan hehhe. Pemandangan disana memang super keren sih. Semangaaat !!!

      Delete
    2. Yups ..., tetap semangaaat, kawan 👌
      Penginnya sih aku juga bisa terus update seminggu sekali, cuman kadang tau2 ada kesibukan dan badan terasa lagi kurang fit.

      Delete
    3. Hahhaha iya Mas, keep update sama share biar tetep baca blog mu Mas hehhe. Terutama artikel jalan2 Jogja :). Semangaaaaat !!!

      Delete
  2. Jujur, gue belom pernah naik gunung karena tiap pergi ke pantai terus, bisa dibilang gue emang penikmat pantai. Gue emang pernah mau ke papandayan bareng temen yang mau "ngajarin" naik gunung, eh tau nya ga jadi. Cukup detail ulasannya masdid, bisa jadi acuan kalo nanti jadi ke papandayan. Cuma itu pungli yang cegat kendaraan trus disuruh bayar 50rb amat sangat disayangkan yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh Cobain sekali2 naik Gunung Mas, jangan mainta mulu pasti nanti ketagihan . Makasih semoga membantu ya :). Entahlah itu pungli atau apa, tapi emang kayaknya setiap angkutan Gak boleh langsung bawa pendaki langsung Dari Terminal Guntur ke Papandayan deh. Cuman boleh bates Simpang Cisurupan, terus ganti Mobil kap terbuka ke pos pendaftaran. Makanya Pas Rincian Biaya Saya pisah 2 angkutan biar gak ngapain kejadian kayak Saya hahhaha.

      Delete
  3. Jadi pengen kesana mas. Salah satu lokasi pendakian yang saya impikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayo Mbak !! Kan deket Dari Bogor hehheh. Hutan mati sama Eidelweis Tegal Alun bagus banget heheh

      Delete
  4. Nah aku pernah ngalamin dua kali soal "uang keamanan" yang mirip kaka Didy alami, pertama ketika berkunjung ke Gili Trawangan, ketika akan memasuki dermaga penyeberangan, diharuskan memakai angkutan lain, juga saat ketika ke bromo, ngalamin juga hal begini.
    Jadi malas sebenarnya ke Papandayan begitu tau akan mengalami hal "uang keamanan" walaupun papandayan sudah ada dalam bucket list

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang suka males ke tempat wisata yang udah rame rih Karena pasti banyak hal beginian hahhaha. Tapi, ya gpp kan setidaknya banyak pengalaman dan pengetahuan yg didapat. Bukannya itu hakikatnya buat travelling toh ?

      Delete
  5. Sy jg blm pernah naik gunung, sy jd tertarik coba.

    Btw, itu mas @didy itu brgkt ksna sndiri trs ktmu partner serperjuangan atau bagaimana ya? Atau niat ny brgkt sndiri, ntr ktmu siapa aj gmpg lah gt?

    Itu uang keamanan, gk dcatet, gk d foto tu org ny, pungli tuh, ngotorin tempat wisata aja. Capture muka nya biar dikandangin. Uang keamanan, dkira qt gk byr polisi bwt ngamanin Indonesia Raya ini, qt byr pajak, enak aj malak 5OK.

    Garuk tu manusia macam bgtu ckckckck
    Jadi merusak pemandangan alam yang indah

    ReplyDelete