Tidak Ada Kopi Di Banten Hari Ini

By Didy - 3/03/2018


Suka ngopi ?, Tanya seorang perempuan tomboy dengan rambut diikat pony tail bun (mukanya manis kayak Gista The East haha), yang tiba-tiba saja nyemperin ketika Saya sedang asik menyesap kopi sembari mainan laptop di salah satu kedai kopi di Kota Serang-Banten.

Suka, jawab Saya saat itu singkat. Lo tau gak kalau kopi yang ada didepan Lo itu udah melalui proses yang panjang sehingga mengahasilkan rasa dan aroma yang nikmat yang bisa Lo rasakan sekarang. Tau gak, kalau sebenarnya buah kopi itu rasanya manis loh. Lantas kenapa bisa pahit ?. Rasa pahit kopi itu muncul karena proses penyangraian (roasting). Meskipun memang ada jenis kopi yang sudah memiliki karakteristik pahit dari sononya. Lanjut Do'i nyerocos.

Selain itu ada faktor lain yang membuat kopi punya rasa pahit, yaitu suhu dan tingkat kehalusannya. Semakin tinggi suhu yang digunakan untuk menyeduh kopi maka akan semakin pahit kopi yang dihasilkan, begitu juga dengan kehalusannya, semakin halus bubuk kopi tersebut maka akan semakin pahit hasilnya (Saya masih mendengarkan penjelasannya dengan takjub).

Itulah percakapan singkat yang terjadi sebulan yang lalu antara Saya dan Erbi disalah satu kedai kopi di Kota Serang, hingga akhirnya Kami pun langsung klik dan tukeran nomor WA ckckck.

FYI, Erbi ini berprofesi sebagai barista di salah satu kafe terkenal di Bali, waktu itu Do'i lagi punya projek dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten untuk workshop tentang kopi terhadap para petani kopi di Lebak, Banten guna mengupayakan potensi perkebunan kopi di Banten. Makanya ketika 3 hari yang lalu Saya di WA sama Do'i buat ikutan workshopnya Saya langsung jawab IYA tanpa pikir panjang hehehehe. 

Lantas apa kabar kopi di Banten ?
Dari beberapa varian kopi yang pernah Saya cicipi di kedai-kedai kopi, rasa-rasanya Saya belum pernah melihat "Kopi Banten" dalam list menunya. Saat Saya tanyapun kepada para peracik kopi di kedai-kedai kopi di Serang, kebanyakan dari Mereka tidak mengetahuinya. Kopi yang disajikan di kedai-kedai kopi yang ada di Banten pun berasal dari Daerah luar. Sementara kopi asli Banten seperti hilang peredarannya ditelan bumi.


Padahal Saya ingat sekali sewaktu Saya kecil Si Embok (baca; nenek) sering mengolah biji kopi sendiri yang diambil dari beberapa pohon kopi dibelakang rumah. Lantas Saya sempat berfikir, kemanakah biji kopi asli Banten ini ?.

Max Havelaar dan Multatuli
Spontan Saya ingat dengan salah satu buku yang menerangkan sejarah kopi di Banten, Max Havelaar itulah judul bukunya karya Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker). Dimana saat itu walikota Amsterdam Nicholas Wisten memerintahkan Adrian Van Ommen untuk membawa seluruh biji kopi nusanatara ke Batavia (Jakarta).

Tidak lama setelah itu mulailah penanaman kopi secara besar-besaran di Nusanatara dari Jatinegara hingga menyebar ke beberapa Daerah lain dan Banten menjadi salah satu daerah yang dibidik oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk ditanami kopi karena dianggap sebagai Daerah yang sangat berpotensi. Lambat-laun kopi pun menjadi semakin terkenal di Eropa bahkan dunia dan menjadi minuman terenak sampai Abad ke 19.

Demi mempertahankan stok kopi di pasar Eropa akhirnya VOC memberlakukan perjanjian koffieseltsel (sistem kopi) dengan para pemerintah daerah. Kemudian perjanjian itu dilanjut dengan perjanjian culturstelsel (sistem tanam paksa). Dimana saat itu rakyat dipaksa untuk menanam komoditi ekspor salah satunya kopi.

Saat itu rakyat Lebak sangatlah menderita karena kesewenang-wenangan para penguasa Daerah. Issue seputar ketidak adilan para penguasa terhadap masyarakat Lebak inilah yang kemudian diangkat dalam Roman Max Havelaar (bahkan sempat difilmkan). Sosok Multatuli pun juga menjadi tokoh terkenal yang membela rakyat Lebak (hingga ada Musium Multatuli di Rangkasbitung).

Harapan pecinta kopi
Menyoal kenapa kopi Banten ini tidak terkenal layaknya kopi Gayo, kopi Lampung atau kopi Kintamani. Salah satu alasan nya mungkin karena kurangnya perhatian para petani di Banten yang masih menganggap kalaulah kopi hanya sebagai sampingan. Sebab lain pun juga muncul karena produk kopi lokal Banten kalah saing dengan produk kopi kemasan yang banyak beredar di pasaran. Selain itu, Masa panen kopi yang cukup lama juga membuat para petani kopi di Banten enggan untuk menanam kopi.

Well, Semoga kedepan para petani di Banten bersedia menanam kopi secara massive di perkebunan milik Mereka dan pemerintahan Provinsi Banten memberikan support yang lebih banyak kepada para petani karena potensi Kopi asli Banten ini bisa mendunia tidak kalah dengan varian kopi Nusantara lainnya. Sehingga, kelak "kopi Banten" muncul pada menu di kedai-kedai kopi sebagai salah satu varian kopi Nusantara yang terkenal di Indonesia bahkan dunia, mengingat jumlah pecinta cairan hitam misterius ini tidak pernah menyusut bahkan semakin bertambah.



  • Share:

You Might Also Like

0 comments