Dalam Kasus "PELAKOR", Laki-Laki Tidak Pernah Salah

By Didy - 2/24/2018


Mungkin agak sedikit telat Saya mengomentari viralnya video Bu Dendy (Isterinya Pak Dendy). Awalnya Saya tidak pernah sedikitpun tertarik untuk mengangkat tema ini. Karena memang tema ini sudah banyak diangkat oleh lambe-lambean diluar sana (Saya gak mau merebut lahan mereka).

Tetapi berkat viralnya video Bu Dendy ini, Saya merasa berat hati untuk tidak berkomentar. FYI Dalam video tampak seorang wanita berkerudung merah yang sedang duduk di sofa dan menunduk sembari dilempari disawer uang pecahan 50 ribuan dan 100 ribuan oleh seorang perempuan dibalik kamera. Sayup-sayup terdengar dari kata-kata si perekam kalaulah wanita berkerudung merah ini dituduh sebagai perebut suami si perekam (Bu Dendy). Bu Dendy menuduh perempuan tersebut berselingkuh dengan suaminya dan memperoleh uang untuk membangun rumah.

Fenomena Pelakor-pelakoran ini sangat gunjing-able, sehingga tidak heran kalaulah tema ini laris-manis dipasaran bak kacang goreng. Belum lagi sumpah-serapah netizen untuk si Pelakor menambah ramainya perdebatan soal ini.



Sikap Saya sih masih sama ya, dalam setiap kasus perselingkuhan pasti selalu ada pihak yang salah yaitu pasangan tersebut dan Si orang ketiga. Iya dong, memangnya SELINGKUH bisa dilakukan sendirian ?.

Namun dalam istilah "Pelakor" di Indonesia menempatkan laki-laki yang terlibat dalam posisi pasif, seakan-akan si laki-laki hanyalah seorang korban yang hanya diam lalu tiba-tiba ada seorang perempuan datang yang nekat merebut Dia dari keluarganya. Dan BHYE !!. Lantas benarkah perselingkuhan terjadi semudah itu ?


Jadi begini ibu-ibu sekalian, sebagai pengamat Saya yakin 99,9 persen ceritanya tyda begitu, karena sebuah hubungan dijalin oleh dua orang, jadi kalaupun Si Pelakor menggoda tetapi benteng Si Laki-laki sangat kuat, ya perselingkuhan tidak akan terjadi. Lain cerita kalau Si Laki-laki menyambut.

Akhir-akhir ini istilah "Pelakor" juga lebih sering digunakan ketimbang WIL (wanita idaman lain).  Dan tidak seperti WIL ada padanannya yaitu PIL (pria idaman lain), Pelakor tidak punya padanan untuk pihak laki-laki, Perisol (jadi inget makanan) misalnya. Hal ini jelas betapa tidak adilnya standar masyarakat Indonesia dalam menentukan siapa yang harus dipersalahkan.

Well, Saya coba simulasi kasus, seandainya yang selingkuh adalah Sang isteri dengan laki-laki lain. Apakah lantas Kita akan menyebut Si Laki-laki sebagai perebut isteri orang ?, Saya rasa tyda, ini jelas kalaulah dalam setiap kasus perselingkuhan yang rentan untuk disalahkan adalah pihak perempuan apapun posisinya baik Pelakor ataupun yang melakukan selingkuh.

Kelatahan Kita menggunakan istilah "PELAKOR" adalah indikasi juga bahwa Kita membiarkan begitu saja pihak laki-laki untuk cuci tangan dalam kasus perselingkuhan. Dan parahnya lagi, istilah ini dilontarkan oleh satu perempuan ke perempuan yang lainnya.

Baiklah jamaah ibu-ibu sekalian, Saya sih tyda punya solusi dalam kasus perselingkuhan, wong nikah juga belum. Tapi, dari kasusnya Bu Dendy ini, Saya bisa menarik satu benang merah kalau lah Kita lebih baik fokus pada pasangan Kita masing-masing dan saling pengertian satu sama lain.

Eh omong-omong, Bu Dendy itu ownernya Nyoklat Klasik ya ?, bilangin sama Bu Dendy, Saya tyda suka toping coklatnya. Kaya coklat gopean. Ckckckck~.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments