Wisata 1000 Curug di Perbatasan Pandeglang, Banten

By Didy - 1/04/2018

Momen tahun baru 2018 kemaren saya habiskan untuk bermalam di lokasi yang anti mainstream. 

Pandeglang !!

loh emang di Pandeglang ada apa ?. 
Bukannya Pandeglang letaknya lumayan jauh dari perkotaan ya ?.
Emang seru tahun baruan ditempat kayak gitu ?.

Entahlah, sebenarnya ide gila ini datang darimana yang jelas awalanya saya sama sekali tidak kepikiran untuk tahun baruan di Pandeglang, bahkan untuk sekedar hange out di new year's eve pun tidak ada niatan sedikit pun.

Semua ini bermula karena beberapa hari sebelum tahun baru 2018, temen saya datang jauh-jauh dari Shanghai buat travelling ke Indonesia. Tentu saja saya mau tidak mau harus menemani mereka untuk menjelajah Serang-Banten, kota yang saya tinggali sekarang ini.

Setelah beberapa hari kita menjelajah tempat-tempat wisata yang ada di Banten seperti Masjid Agung Banten, Keraton Kaibon, Menara Banten, Vihara Avalokitespara Serang, Benteng Speelwijk hingga deretan pantai Anyer. 

Tapi karena masih dirasa kurang puas hanya mengunjungi tempat-tempat tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke wisata air terjun yang letaknya masih di Serang juga.
Berangkatlah kami di hari sebelum tahun baru 2018 menuju Curug Cigumawang yang berlokasi di Padarincang, Kabupaten Serang. 

Rencana awal saya memang ingin mengunjungi Curug Cigumawang karena memang lokasinya pun tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Tetapi diperjalanan menuju lokasi kami bertemu salah seorang warga lokal yang mengusulkan untuk berwisata ke Curug Tomo saja, karena menurutnya Curug Cigumawang agak keruh airnya ketika musim penghujan dikarenakan dasar sungai yang bertanah merah. 

Karena Gary dan Carla merasa ingin membuktikan apa yang diceritakan si Bapak tadi tentang keindahan si Curug Tomo ini, akhirnya berangkatlah kita menuju lokasi tersebut. Berjalan sekitar 20 menit dari lokasi parkiran dekat Curug Cigumawang, Padarincang. Melewati rute yang cukup terjal dengan jalanan batu dan tanah yang cukup licin dengan rute tanjakan Dan turunan.


Disepanjang perjalanan menuju lokasi ini, kami dimanjakan dengan rindangnya pepohonan di samping kiri-kanan jalan, sejuknya udara pegunungan dan banyaknya hamparan buah durian yang dijajakan disepanjang jalan membuat kita sedikit lupa dengan rasa capek dan lelah setelah berjalan cukup lama, setelah rute tanjakan dan turunan dengan tanah licin dan batu-batu besar kita masih harus menyebrangi sungai yang berarus cukup deras.


Disini saya sarankan untuk membawa tongkat untuk pegangan dan harus berhati-hati karena salah-salah kita bisa terpleset dan terbawa arus meskipun memang sungainya tidak dalam tetapi cukup berbahaya. Tetapi semua pengorabanan untuk mengunjungi lokasi tersebut menjadi terbayar sudah manakala kami telah sampai dilokasi dan melihat secara langsung keindahan air terjun tersebut

Curug Leuwi Bumi


Awalnya kami mengira kalau air terjun yang pertama kita jumpai ini adalah si Curug Tomo yang hendak kami tuju pada hari itu, namun belakangan kami tahu kalau ini adalah Curug Leuwi Bumi. Tidak diragukan lagi keindahan air terjun yang satu ini, disini kita bisa menjumpai air terjun yang bertingkat-tingkat dengan air yang sangat jernih dan berlokasi ditempat yang masih tersembunyi dan masih belum banyak wisatawan yang mengunjunginya. 

Tidak lengkap rasanya kalau kita mengujungi air terjun tanpa mandi di airnya yang jernih tersebut. Tidak membuang-buang waktu sedikitpun kami langsung saja terjun dari atas tebing untuk berenang. Air di Curug Leuwi Bumi ini begitu sejuk bahkan cenderung sangat dingin. Berenang di air terjun ini membuat kami menjadi rileks dan menenangkan. Dirasa waktu kami pada saat itu masih belum puas untuk menikmati pesona keindahan air terjun tersebut, muncullah ide gila dari kedua teman saya.

Gary dan Carla : Didy, how if we sleep over here tonight ?
Saya : Cengok !!, 

karena saya merasa mereka sudah datang jauh-jauh dari negeri Cina sana, akhirnya  saya mengiyakan saja. Dan kami menginap di penghujung tahun 2017, walaupun tanpa sedikit pun perbekalan karena dari awal kami memang tidak merencanakannya sama sekali.

Curug Leuwi Tomo


Merasa belum puas dengan satu air terjun saja, besoknya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menjelajahi beberapa air terjun yang berlokasi tidak jauh dari air terjun Curug Leuwi Bumi. To kill two birds with one stone, niat hati hanya mengunjungi satu air terjun tetapi kami malah dapat mengunjungi beberapa air terjun dalam satu kali perjalanan.

Sama dengan air terjun Curug Leuwi Bumi, Curug Leuwi Tomo pun memiliki air terjun yang bertingkat-tingkat dengan air yang begitu jernih dan dingin lengkap dengan keindahan pemandangan disekitarnya yang akan membuat takjub siapa saja yang menyaksikannya. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama hanya untuk satu lokasi air terjun ini saja.

Desa Turalak

Awalnya kami berpikir desa terdekat dari beberapa air terjun ini adalah tempat dimana kita memarkirkan kendaraan kita, tetapi ternyata bukan. Saya mengetahui desa ini, karena pada sore hari kami berjalan menyusuri pemandangan indah disekitar lokasi Curug Leuwi Bumi. Hingga kami terdampar disuatu desa bernama Turalak dinamakan turalak karena akses jalan menuju desa ini jelek dan berbatu-batu besar sehingga warga sekitar menjulukinya sebagai Desa Turalak. 

Disini semua terlihat begitu indah dan alami, dengan tanah yang sangat subur. Mayoritas penduduk desa ini berprofesi sebagai petani, disini kami menemukan begitu banyak kearifan lokal. Percaya atau tidak penduduk desa ini sangatlah baik, melihat kami yang berjalan-jalan seperti tidak tahu arah mereka berbaik hati menwarkan kami tempat tinggal dan bahkan makan malam secara cuma-cuma.


Perjalanan kami mengunjungi curug-curug ini sangatlah menyenangkan, kami menghabiskan malam tahun baru yang tak terlupakan dengan cara yang anti mainstream.

Cheers !!






  • Share:

You Might Also Like

0 comments