Review Film Insidious: The Last Key

By Didy - 1/27/2018


Sumber Gambar https://www.youtube.com/

Mungkin banyak dari penonton yang merasa belum terpuaskan dengan seri Insidious Chapter ke-3 yang dirilis tahun 2015 lalu.

Salah satunya mungkin juga kamu, ngaku deh ?.
Saya juga termasuk kok heheh, kemarin sepulang kerja saya memberanikan diri untuk menonton film horror ini.

Ya meskipun saya juga sebenarnya bukan penggemar berat seri Insidious ini, tetapi mengingat di Serang, kota tempat tempat saya tinggal ini baru dibuka sebuah bioskop baru gak ada salahnya kan ditonton heheh maaf agak sedikit katro ya.

Baiklah, without any further do saya akan me-review suka-suka film horor yang satu ini.

Menurut saya, inilah saatnya kamu untuk menjawab rasa penasaran kamu terhadap chapter-chapter seri Insidous sebelumnya yang belum terobati dengan menonton seri Insidious The Last Key yang sedang tayang diseluruh bioskop di Indonesia.

Setidaknya rasa penasaran kamu akan sedikit terobati dengan menonton film Insidious The Last Key ini, tidak seperti dua sekuel lainnya yang mengambil terminologi 'Chapter', seri ke-4 dari Insidious ini memilih tajuk khusus 'The Last Key' seperti dialurkan terpisah dari chapter-chapter sebelumnya.

Untuk menyegarkan ingatan kamu, seri Insidious sudah berlangsung cukup lama kurang-lebih tujuh tahun. Film pertama, yaitu Insidious (2010) bercerita tentang pasutri yang anak lelakinya kesurupan. Mereka lalu menyewa jasa seorang cenayang bernama Elise (Lin Shaye) yang harus masuk ke dunia "Further" alias alam setelah kematian, antara surga dan neraka, demi menyelamatkan sang bocah. Di akhir film, sang bocah selamat, tapi Elise mati.

Sumber Gambar http://jabar.tribunnews.com

Meskipun demikian, di film kedua Insidious 'Chapter' 2 pada tahun 2013 roh Elise muncul pada chapter ini,melanjutkan cerita dari film pertama yang belum sepenuhnya selesai. 

Lalu film berikutnya, Insidious: Chapter 3 (2015) menjadi sebuah film prekuel tentang aksi Elise menaklukkan roh jahat. Dia dibantu duo konyol Tucker (Angus Sampson) dan Specs (Leigh Whannel) yang bekerja dengan bantuan teknologi demi menangkap sinyal kehadiran para roh.  

Dalam seri keempat ini, cerita akan mengorek-ngorek masa lalu Elise. Tucker dan Specs juga muncul lagi untuk membantu misi sang cenayang ini. 

Menurut saya tampaknya Leigh Whannell dan James Wan sebagai penelur kisah seri Insidious tampaknya benar-benar bekerja keras untuk mempersiapkan serial sekuel atau kelanjutan dari chapter sebelumnya. Dikombinasikan antara film horror dan thriller akan membuat rasa penasaran penonton menjadi-jadi ditrambah dengan sedikit imaji kriminal menurut saya menjadikan Insidous The Last Key sukses menghubungkan kompleksitas dengan chapter-chapter sebelumnya.

Spoiler sedikit
Diawal film kita akan dibawa sedikit kepada sebuah kisah singkat yang terjadi di Five Key, New Mexico pada tahun 1950an, yang tidak lain adalah kisah kehidupan keluarga Elise kecil. Berlatar disebuah lembaga pemasyarakatan yang sangat mencekam semakin menambah nilai seram dari film ini.

Sumber Gambar https://www.kapanlagi.com/
Di sebuah rumah sipir lapas tersebut Elise tinggal bersama orangtua dan adik laki-lakinya Christian, Elise memiliki kehidupan yang rumit akibat kemampuannya melihat makhluk halus. Akan tetapi ayahnya tidak menyukai hal sehingga membuat Elise kecil dihujami banyak hukuman oleh sang ayah.

Di-10 menit awal 'The Last Key', Whannell dan sutradara Adam Robitel melempar penonton ke era 2010-an. Disini penonton akan diajak melihat realitas Elise yang sudah tua dan menjadi cenayang seperti chapter-chapter sebelumnya yang tetap dihantui dengan kenangan-kenangan kelam dirinya dengan keluarganya dan juga dengan roh-roh jahat yang selalu menghantuinya.

Di era ini elise diceritakan sebagai cenayang yang banyak membantu orang-orang yang sedang diganggu roh jahat tetapi disini Elise tidak sendiri dalam misinya, Elise ditemani duo sahabat Tucker (Angun Sampson) dan Specs (Leigh Whannell). Kedua pria yang kadang bertingkah konyol itu resmi bergabung dengan Elise membuka jasa pertolongan ghaib, adanya duo sahabat Tucker dan Specs memberikan sisi humor yang akan membuat penonton beristirahat sejenak dari nuansa horror film ini.

Semua tampak normal hingga telepon permohonan bantuan membuat Elise harus menghadapi masa lalu kembali, demi masa depannya sendiri.

Peran Elise sang cenayang semakin dominan sejak di Chapter 3. Hal ini pun semakin tegas dalam kelanjutan prekuel kisah Insidious ini. Bahkan menurut saya, film ini dapat dikatakan dibuat khusus tentang Elise, dan kunci penting peranannya dalam serial Insidous.

Begitu juga terjadi pada duo konyol Tucker dan Specs. Mereka pun memiliki peran lebih dalam The Last Key ini. Walaupun, kehadiran mereka sebenarnya hanyalah pengendur saraf tegang mengikuti insting mistis sang cenayang  Elise. 

Opini jujur
Well, walaupun memiliki banyak perbaikan dibanding chapter-chapter Insidious sebelumnya, seperti latar film yang begitu horror dengan scoring musik yang menegangkan, visual yang menyeramkan dipadukan dengan setan yang mengerikan. Setan kunci yang menjadi sosok jahat di film ini akan sukses membuat penonton terbawa dalam mimpi buruk.

Tetapi sayangnya menurut saya film ini berakhir antiklimaks, saking antiklimaksnya untuk ukuran film horror bisa-bisa menimbulkan penonton awam seperti saya bertanya-tanya dan berharap agar film tidak usai disitu.

Karena menurut saya awal film yang begitu apik seharusnya bisa ditutup dengan klimaks yang memuaskan rasa penasaran penonton. 

Well, mungkin karena akan ada sekuel-sekuel selanjuntnya sehingga klimaks yang gantung akan membuat rasa penasaran penonton dan akan membuat penggemarnya rela menunggu next chapter dari seri Insidious ini.

Jika saya boleh memberikan score 1-10 untuk film ini saya akan memberikan score 8, dan dengan ini saya sang reviewer abal-abal merekomendasikan film horror ini untuk kamu tonton bersama-sama orang terkasih di minggu ini dan worth it.




  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. filmya seru gan tapi serem. bikin merinding. untung bukan ane yg jadi pemainnya haha

    ReplyDelete
  2. Tapi kayaknya gak jadi serem sih kalau tutup kuping wkwkkw

    ReplyDelete
  3. Kekuatan akting pemain dan tata suara yang bikin tontonan ini jadi kesannya menegangkan

    ReplyDelete