Ketika Ketikan Jari Dan Bertutur Kata Di Media Sosial Bisa Membuat Kamu DIPENJARA

By Didy - 1/21/2018



Sumber Gambar http://style.tribunnews.com
Siapa dari kamu yang tidak memiliki Instagram, Facebook, Twitter atau Medsos yang lain ?
Memiliki media sosial di era modern seperti sekarang ini dianggap sebagai suatu keharusan bagi para milenial.

Takut dianggap kuper atau kurang update menjadi alasan utama kenapa setiap orang di zaman ini  merasa harus memiliki Medsos.

Namun dalam penggunaan media sosial hendaknya kamu lebih bijak dan berhati-hati, karena salah-salah bukannya menjadi gaul malah kamu bisa masuk penjara.
Kasus Joshua Suherman misalnya, saya sempat menonton videonya Joshua sedang me-roasting Cherly ex Cherrybelle.
Dalam roastingannya Joshua Suherman sedikit menyinggung tentang kenapa Cherly kalah populer dibandingkan dengan Annisa adalah bukan karena skill nyanyi, kecantikan atau skill dancing melainkan karena unsur mayoritas masyarakat indonesia yang beragama Islam.
Mungkin ini pure keresahan Joshua sebagai seorang Komika dan dia tidak pernah menyangka kalau hal ini akan menjadi sebuah kasus besar baginya, dan masih banyak kasus-kasus lain yang disebabkan oleh kurang bijaknya dalam bermedia sosial.

Sering dari kita menghabiskan waktu sehari-hari dengan bermain Medsos. Entah hanya sekedar menyapa teman lewat cuitan Twitter, membuat status, membagikan foto-foto di Instagram atau hanya sekedar berbalas komentar di Facebook yang berujung pada ujaran kebencian.

Banyak sebenarnya hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam bermedia sosial, yang apabila kamu langgar hal-hal tersebut akan membuat kamu dipenjarakan, berikut beberapa hal yang tidak boleh kamu lakukan dalam bermain Medsos,

Memfitnah
Memposting sesuatu di media sosial adalah sama dengan publikasi. Publikasi dalam Medsos memiliki hukum yang sama dengan publikasi di media cetak seperti majalah atau surat kabar.

Menyebarkan hal yang tidak benar atau hoax dapat dikategorikan sebagai fitnah. Dalam Hal fitnah ini ada dasar hukumnya. 

Jadi kamu harus berhati-hati dalam hal penyebaran kabar-berita yang belum jelas kebenarannya.

Melanggar hukum
Mempublikasikan foto dan video di Medsos juga ada aturannya, jangan sampai kamu melanggar hukum.

Banyak sekali kasus-kasus yang terjadi akibat kelalaian bermain Medsos.
Beberapa minggu terkhir ini publik sempat dihebohkan dengan kasus YouTuber asal Amerika Logan Paul, pasalnya Logan mengunggah video dirinya sedang berjalan-jalan di hutan Bunuh Diri di Jepang. 

Video berdurasi 11 menit tersebut tentu saja menjadi sorotan publik, karena hal semacam ini sangat tidak layak untuk dipertontonkan kepada publik, meskipun dalam video tersebut dirinya sudah memberikan disclaimer dan menekankan bahaya mental illness

Akan tetapi tetap saja hal ini tidak layak untuk dipublikasikan terlebih karena subscriber Logan kebanyakan adalah anak-anak.

Making a joke
Banyak dari kamu yang menganggap kalau membuat candaan di Medsos adalah hal yang wajar, sampai-sampai kamu lupa mana batasan joking yang masih diperbolehkan dan tidak.

Making a joke tentang bombing atau terorisme misalnya. Atau yang lagi marak sekarang-sekarang ini adalah prank yang dilakukan dengan niatan bercanda. Padahal hal semacam ini bisa membahayakan orang lain.

Rasisme
Berbicara tentang rasisme, kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan isu yang satu ini.
Pasti kamu pernah mendengar atau membaca tentang penindasan kuam kulit hitam yang dilakukan oleh kaum kulit putih di Amerika.

Definisi rasisme sendiri menurut Oxford English Dictionary adalah merujuk pada pemahaman yang menganggap bahwa ras suku tertentu lebih superior terhadap ras atau suku yang lainnya.
Rasisme adalah menjadi isu sensitif belakangan ini, sedikit saja kamu menyebarkan isu rasisme di Medsos akan membuat kamu terkena kasus yang berujung pada jeruji besi.


Offences
Internet trolls atau orang-orang yang mengirimkan pesan-pesan sensitif dengan tujuan memancing kemarahan publik begitu polpuler di 2 tahun terakhir ini.

Memposting sesuatu atau berkomentar di status orang lain yang sangat menyinggung pihak-pihak tertentu akan menyebabkan kamu dipenjarakan.

Alasan Freedom of speech lah yang biasanya mendasari kamu memposting atau berkomentar sesuatu yang sangat menyinggung sesorang tertentu atau terkait SARA.

Mengenai kebebasan berbicara di sosial media, lagi-lagi saya merasa bosan dengan hated speech yang bertebaran entah itu di Facebook, Twitter, Instagram atau even Youtube.
Kenapa dengan adanya sosial media sekarng orang-orang tidak bisa lebih fair, misalnya saja dalam hal berpolitik.

Ketika kita berbeda pandangan politik misalnya,  menjadikan kita bermusuhan bahkan tidak jarang merusak hubungan kekeluargaan. 


Coba mengambil satu contoh tentang pemilihan gubernur Jakarta kemarin yang begitu ramai dan bisa dibilang menjadi lebih menarik dibandingkan pertandingan sepak bola piala dunia. Sepertinya apapun yang dilakukan oleh kubu yang berbeda selalu salah, bahkan hingga hal-hal kecil pun.

Jangan karena kamu berbeda pandangan politik menjadikan kamu tidak fair terhadap kubu yang lain, dari kedua kubu yaitu Ahok – Anies misalnya, dari yang saya lihat sepanjang berselancar didunia maya. Orang-orang tersebut sangat tidak bisa untuk bertindak fair, misalnya dia ngejagoin satu orang maka dia harus benci orang yang satu nya lagi.

Menurut saya orang-orang yang kebetulan berisik di Sosmed adalah orang-orang yang Childish, in terms of kamu bisa lebih fair untuk menilai seseorang berdasarkan kinerjanya dan menilai sesorang secara objektif. 

Kalau dia kinerja nya buruk ya bilang ataupun sebaliknya ketika kinerjanya bagus ya kamu pun harus aknowledge hal  itu.

Entahlah, saya juga sebenarnya bukan orang yang suka dengan hal-hal berbau politik. Tetapi ketika maraknya hated speech dibanyak media sosial membuat saya sedikit terganggu. 

Tidak hanya hal-hal berbau politik, hal-hal yang bersifat SARA dan Agama pun banyak sekali di media sosial. Padahal menurut saya di Indonesia, yang saya lihat minoritas pun sudah dianggap sama misalnya saja dijamin untuk beribadah dengan damai, bahkan hari-hari besar semua agama pun diakui di Indonesia, ibaratnya ketika natalan juga festive nya sama begitu juga ketika lebaran atau hari-hari besar lainnnya.

Saya ingat cerita salah satu teman yang tinggal di Belanda, meskipun banyak yang bilang kalau Eropa menghargai semua kepercayaan dan agama yang berkembang disana.Tetapi dalam hal mayoritas-minoritas masih terasa.

Misalnya saja, antara natalan dengan lebaran sangatlah berbeda dimana ketika natalan tiba semua orang akan sibuk dengan perayaan-perayaan sedangkan ketika lebaran orang-orang disana tidak terlalu sibuk layaknya natal, tidak ada pemasangan-pemasangan atribut seperti ketupat dan lain sebagainya layaknya di Indonesia. Tuturnya

In terms of that, saya rasa Indonesia sudah sangat baik dalam mengayomi masyarakatnya even minoritas. Tapi memang ada sedikit aspek-aspek yang exclude minoritas dan mungkin ini juga yang menjadi sumber keresahan.

Padahal jikalau kamu mencoba untuk educate yourself a bit, kamu akan menemukan setiap agama memiliki kepercayaan nya masing-masing dan mungkin kamu akan menemukan ternyata kalau ini semua tidak hanya hitam dan putih tapi beraneka ragam layaknya spektrum. 

Dan menurut saya yang terpenting dari semua ini adalah kita harus berdialog satu sama lain, karena menurut saya kita terlalu sibuk untuk mengkotak-kotakan orang, bergeng satu sama lain atau minoritas-mayoritas.

Kita lupa untuk bertanya sama lain dan terlalu egois.

Bagaimana sikap kita terhadap orang lain ?

Sudah benarkah kita men-treat orang lain ?

Dan sebenarnya masalahnya apa ?

Well, kita lupa dengan hal-hal ini dan entahlah itu semua saya juga tidak mengerti kenapa. Padahal kita sama-sama berbicara Bahasa Indonesia, kita tahu caranya ngomong dan berkomunikasi dan saya yakin kita tahu caranya bertutur yang sopan satu sama lain.

Di Sosmed kita berantem satu sama lain dan tidak mau mendengar kan orang lain tapi lebih ke proving points doang ke lawan berantem kita.

Kita tidak mau mengerti satu sama lain dan believe it or not itu yang continuously terjadi di Indonesia. Coba harusnya kita semua berintrospeksi diri terhadap cara kita memperlakukan orang lain, sudah benar atau belum sih cara kita.

Sering saya berdiskusi dengan teman-teman yang berbeda agama, misalnya tentang pandangan jujur mereka tentang islam, bagaimana islam itu di mata dunia dan seperti apa kita seharusnya berperilaku sata sama lain, supaya saya bisa tahu tentang pendapat orang lain tentang agama saya dan sehingga saya bisa lebih bijak lagi dalam berperilaku terhadap sesama.

Hemh, mungkin saya cuma rindu dengan kehangatan orang-orang Indonesia, berbicara satu sama lain dari hati-kehati dengan sopan santun yang selalu terjaga.

Last but not least, saya juga ingin hendaknya kita lebih bijak dalam menggunakan media sosial sehingga kita tidak ceroboh dengan apa yang kita posting, apa yang kita komen karena kita harus mempertanggung jawabkannya, dan jangan sampai salah-salah kamu bisa ditangkap dan di penjarakan hanya gara-gara tidak bijaknya kamu dalam menggunakan media sosial.
 

 


  • Share:

You Might Also Like

0 comments