Gunung Prau Dalam Sebuah Pendakian

By Didy - 1/06/2018


Mengisi liburan panjang bulan Desember 2017 lalu saya memutuskan untuk traveling ke Dieng. Jangan Tanya kenapa saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Dieng.

Karena tentu saja Dieng punya banyak alasan untuk dikunjungi. Banyaknya tempat wisata di Dieng, membuat banyak wisatawan yang ingin mengunjungi Dieng tentu saja membuat tempat wisata ini menjadi sangat ramai ketika musim liburan.

Salah satu yang jadi incaran para wisatawan adalah Gunung Prau. Karena gunung ini sangat cocok untuk pemula yang ingin melakukan sebuah pendakian.

Sebenarnya saya sendiri tidak memiliki niatan untuk mendaki Gunung Prau, semua karena tempat menginap saya di Dieng sangat dekat dengan post pendakian Patak Banteng ditambah hasutan si host couchsurfing saya, menurutnya kenapa tidak sekalian saja mendaki Gunung Prau karena sudah kepalang tanggung berkunjung ke Dieng.


Akhirnya setelah mengunjungi tempat-tempat wisata di Dieng dan pada malam kedua saya memutuskan dan memberanikan diri untuk mendaki Gunung Prau, hanya bermodalkan sleeping bag pinjaman dari teman couchsurfing saya pun berangkat tepat pada pukul 21.00 ke post pendakian Patak Banteng.

Mendaftarlah saya dengan membayar hanya 10,000 rupiah saja, kemudian dijelaskan lah hal-hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan pada saat pendakian oleh si petugas tiket, saya pun mendengarkan seksama.

Sempat kebingungan hendak tidur dimana ketika nanti sampai puncak pasalanya saya tidak membawa tenda dan peralatan lain dan saya juga hanya sendirian. Memutar otak akhirnya saya mencoba PDKT sama para pendaki lain berharap bisa join di tenda mereka dan melakukan pendakian bersama. Setelah bercakap-cakap dengan para pendaki yang hendak mendaki Gunung Prau pada malam itu akhirnya gayung bersambut saya ditawarkan untuk mendaki bareng bahkan join di tenda mereka.

Tepat jam setengah 12 malam kami memulai pendakian. Dengan dinginnya udara Dieng malam itu, untunglah trek pendakian Gunung Prau sangat ramah untuk pendaki pemula seperti saya. Dimalam itu, Gunung Prau cukup ramai oleh para pendaki baik dari wilayah sekitar Dieng bahkan luar kota. Setelah mendaki cukup lama digelapnya malam tepat jam setengah 1 dini hari kami sampai di post tempat mendirikan tenda. Dan kamipun mendirikan tenda untuk kemudian beristirahat sejenak hingga sunrise tiba.

Keindahah view Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro
Menyaksikan indahnya sunrise dari puncak gunung adalah salah satu hal yang sangat sukai dari sebuah pendakian. Saya merasa seperti memiliki semangat baru ketika menyeruput secangkir kopi dari balik pintu tenda lengkap ditemani dengan view yang menakjubkan. Dari puncak Gunung Prau, saya bisa menyaksikan betapa indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing nampak begitu indah, sungguh lukisan lekukan alam yang indah dari tangan Sang Pencipta. Saya menjadi semakin bersyukur atas nikmat-Nya ini.
Puas menikmati indahnya sunrise dari puncak Gunung Prau, sebelum pendakian turun saya menyempatkan untuk explore Gunung Prau.

Amazing !!

Pemandangan alam disini begitu sempurna sepanjang mata memandang semuanya terlihat indah. Pemandangan beberapa gunung, hamparan pohon-pohon hijau, indahnya hamparan bukit-bukit bak rumah bagi para Teletubbies, dan sepanjang perjalanan hamparan bunga Daisy mengcover seluruh area ini.
Bunga Daisy 
Jangan panggil saya seorang pendaki dan sebuah ironi
Seperti ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil mendaki suatu gunung sampai puncak, begitu pula saya. Tetapi sebangga-bangga nya saya, saya merasa masih belum pantas disebut pendaki. Bukan karena pendaki tidak keren, tapi apalah saya ini ?. Pengetahuan tentang gunung pas-pasan, belajar mendaki gunung otodidak, gear-gear keren layaknya pendaki sungguhan saya tidak punya, ikut organisasi pencinta alam pun juga tidak. Saya hanya orang yang jatuh cinta dengan keindahan gunung dan kagum dengan sosok pendaki yang saya temui selama pendakian.

Dalam pendakian ini saya merasa kehilangan sedikit sosok pendaki yang dahulu saya kagumi. Semua pendaki kini sama. Keril besar, sepatu boot, buff, jaket lafuma, celana kargo dan action cam. Secara fisik masih sama, namun saya harus meminta maaf karena sosok pendaki sekarang sedikit berbeda. Saya sedikit kehilangan hangatnya sapaan sesama pendaki, terlalu banyak pendaki yang sibuk berselfie ria, menyetel musik keras-keras di pagi buta, bahkan ada oknum yang bertutur kata kotor.

Sumber Gambar
Bagaimana perasaan kalian saat melihat papan himbauan tersebut ?

Miris.

Yap, bagaimana tidak. Bilamana membuang sampah saja kita masih perlu diingatkan. Bahkan meski sudah diingatkan dengan papan-papan himbauan tersebut masih banyak dari kita yang suka "nyampah" sembarangan. Ada hal lain yang tidak kalah ironi nya dengan hal ini, ketika pendaki lain berusaha untuk mengingatkan pendaki lain yang nyampah sembarangan dengan menuliskannya di bebatuan dan pohon-pohon yang ada di gunung.

Lantas apa bedanya dengan oknum yang suka nyampah ?


Dari sekian banyak sampah yang saya jumpai, masih saja terdapat sampah kertas sapaan salam untuk orang-orang tercinta. Hemh, saya yakin kalau si penerima salam melihat foto-foto tersebut bukannya bahagia pasti malah mereka akan merasa malu.

Saya yakin hal-hal ini hanya dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab saja. Saya yakin sosok pendaki idola saya masih ada sampai saat ini, kehangatan pendakian itu masih ada yang akan membuat saya selalu rindu untuk mendaki gunung layaknya seseorang yang pergi jauh merantau dari kampung halamannya dan sangat rindu dengan suasana hangat ketika berada dirumah. Yap, karena gunung adalah rumah bagi setiap orang.

Bagi setiap pendaki.

Cheers !!



  • Share:

You Might Also Like

0 comments