Gaya Hidup Minimalis Untuk Hidup Yang Lebih Bahagia

By Didy - 12/10/2017



Apa yang terlintas dipikaran teman-teman saat mendengar kata minimalis ?
Arsitektur rumah ?,
Musik ?
Politik ?
Atau gaya hidup ?

Yap semuanya benar, tapi yang bakalan gue bahas di artikel kali ini adalah Minimalism Konsep dalam gaya hidup. Belakangan gue baru terpikir untuk mencoba gaya hidup minimalis, ini semua sebenarnya gara-gara seringnya gue mengunjungi perkampungan Suku Baduy, gue noticed banget kalau jauh sebelum minimalis konsep tenar kaya sekarang mereka sudah menganutnya di semua aspek kehidupan mereka. 

Then, gue akhirnya googling untuk konsep Minimalism Lifestyle ini. gue nemuin banyak sekali artikel yang membahas konsep ini. Dijepang bahkan penganut konsep gaya hidup minimalism ini semakin meningkat setiap tahunnya, menurut penganut gaya hidup minimalis ini di Jepang, membuat mereka banyak sekali quality time berasama keluarga, teman, atau orang-orang terdekat mereka. Misalnya saja dengan memiliki sedikit barang membuat mereka hanya menghabiskan sedikit waktu untuk beres-beres semua barang-barang yang mereka miliki. Tentu saja penganut gaya hidup minimalis ini melawan norma masyarakat yang sangat konsumtif di zaman sekarang.

Ketika gue terus mencari tentang konsep minimalism ini, membaca banyak artikel tentang tata cara hidup minimalis, konsep minimalism yang banyak digandrungi oleh warga jepang dan orang-orang yang ingin lebih bahagia dengan hanya mempunyai apapun yang hanya mereka butuhkan. adanya hal ini menurut gue benar adanya, karena gue sangat relate kalo punya banyak barang akan sangat mendistraksi fokus kita. 

Gue merasakan hal demikian, fokus gue banyak terdistraksi dengan hal-hal yang sebenarnya waktu tersebut bisa kita gunakan untuk quality time bersama keluarga misalnya. Gue sadar memang naluri manusia secara alamiah suka terhadap barang-barang dan kemewahan, kita senang dengan gadget-gadget keluaran terbaru, baju-baju mahal, sepatu mahal, tas-tas branded dan yah ini menurut gue sedikit banyak menjadi fokus umat manusia di abad ini. Yang bahkan kadang kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan sama sekali.

In fact kita tetap membelinya, kadang hanya untuk impress orang lain. Percaya atau enggak, tapi inilah kenyataannya. Kita gak mau dianggap broke kalo pake baju yang itu-itu saja setiap harinya, dan merasa ketinggalan zaman ketika kita tidak mempunyai gadget keluaran terbaru, instead of memikirkan kebutuhan kita, malah kita terlalu memperhatikan people's judgement, because most people do judge book by its cover.

Seminggu yang lalu gue mencoba memulai dengan menyortir isi lemari, dan ternyata banyak baju yang sebenarnya gue hanya pake sekali dari saat membeli sampai sekarang terus gue mencoba untuk menyortir semua pakaian yang gak gue pake dan gue kumpulin ternyata betapa terkejutnya gue ketika dikumpulin ternyata hampir empat kardus besar indomie. Astaga jadi selama ini gue membelanjakan untuk sesuatu yang sebenarnya gue gak membutuhkannya. Dan gue mencoba menyortir barang-barang yang gue punya mungkin bisa gue sumbangin atau kasih ke orang-orang yang lebih membutuhkannya.

Sekarang gue merasa lebih bahagia, ini bukan pencitraan yah. Karena memang mempunyai banyak barang sangat mendistraksi fokus gue dan memakan banyak waktu. Misalnya saja ketika gue mau hange out bareng teman, gue merasa semua baju yang gue punya dilemari gak ada yang bagus dan gue akan memakan banyak waktu hanya untuk memutuskan pakaian yang bakalan gue pakai di hari itu. Dan at least sekarang gue bisa sedikit melepaskan keterikatan gue terhadap barang-barang yang gue miliki, dan kabar baiknya tentu saja membuiat gue sedikit lebih hemat. 

Dan gue juga sekarang merasa lebih bersyukur terhadap apa yang gue miliki dan merasa sedikit lega karena memiliki kontrol terhadap apapun yang sebenarnya gue gak membutuhkannya. Semoga gue terus konsisten untuk menjalani gaya hidup minimalis ini dan semakin banyak orang yang sadar untuk mencoba pola hidup yang tidak konsumtif.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments