[Review Buku] Sirkus Pohon by Andrea Hirata

By Didy - 10/22/2017

Cover Buku Sirkus Pohon

Seberat apapun hidup, tetap ada yang bisa ditertawakan- Sirkus Pohon

Tadi malam baru saja saya mendapatkan buku ini dari salah seorang teman yang memberikan buku keren ini begitu saja secara gratis, kontan saya langsung berkata yess karena untuk karangan Andrea Hirata tentu saya mau dong apalagi gratis pula, sebenarnya buku ini sudah menarik perhatian saya sejak sebulan yang lalu hanya dari melihat cover buku nya saja yang begitu eye catching akan tetapi belum sempat juga saya membeli novel keren ini, dan ketika ada teman yang menawarkan akan memberikan novel ini secara cuma-cuma jelas saya langsung grab it fast . Ok singkat cerita saya langsung membaca novel ini malam itu juga dan langsung menyelesaikannya sampai dini hari walaupun dengan sedikit terkantuk-kantuk. Awalnya saya merasa begitu aneh melihat judul dari novel ini yang tidak biasa dan sebelumnya saya menduga apakah ini novel fantasi ?, sejak saya buka novel ini dari halaman pertama dan membaca daftar isi bab per bab nya, waw pasti di buku ini akan ada banyak ledakan-ledakan imajinasi yang tak ayal akan membuat para pembaca ketagihan dan tidak sabar membacanya sampai halaman terakhir dan mengetahui ending dari ceritanya tersebut.

Menurut saya membaca novel ini saya serasa berada disuatu plot sebuah film. Pernah menonton film Now You See Me ?, membaca novel ini membuat saya teringat akan film ini. banyak orang yang mereview film ini dan tidak sedikit orang yang berkata kalau film ini begitu cerdas dan unik yang bisa membuat penonton terperangah. Termasuk saya yang begitu gemas dan kadang bengong saking terperangahnya saat tahu ending dari film tersebut. Nah kenapa saya bertanya tentang film ini dan apa kaitannya ?, karena menurut saya film dan novel ini sama-sama jeniusnya dalam mengarahkan imajinasi pembaca dan penontonnya yang bahkan akan merasa kebingungan dan begitu sulit untuk menebak bagaimana ending dari ceritanya.

Andrea Hirata memang satrawan kenamaan yang terkenal sangat mencintai kebudayaan aslinya di Belitong daerah dimana dia berasal, hal ini menurut saya tidak perlu diragukan lagi pun dengan karya-karya nya yang begitu kental dengan budaya melayu, kearifan lokal tentang Belitong menjadi sangat kental tertuang dalam novel ini. Karenanya menurut saya ketika anda membaca karya nya yang satu ini apapun suku dan bahasamu, ketika menyelami lembar demi lembar novel ini Sirkus Pohon ini mendadak kamu akan seperti terlahir kembali sebagai seorang melayu yang fasih menggunakan bahasa melayu, seolah-olah anda sedang berada ditengah lingkungan Belitong, penggunaan nama-nama dalam karakter di novel ini juga begitu lekat dengan nama-nama melayu seperti Debuludin, Suruhudin, Suridin Kebul, Taripol dan lainnya. Belum lagi penggunaan bahasa slang Belitong seperti “Boi” dan “Ojeh” yang sering muncul dalam setiap percakapan di novel Sirkus Pohon ini yang akan sangat mendukung anda menjadi merasa seorang melayu Belitong pada saat membacanya.

Menurut saya karya Andrea Hirata yang satu ini memiliki sentuhan magis dalam tiap kalimatnya dari sanga maestro, jelas saja misalnya saja dia membuka bab awal novel ini dengan menceritakan sebuah pohon delima berlembar-lembar tapi terbukti tidak membuat saya bosan membacanya karena di bumbui dengan roman, komedi dan penjelasannya yang begitu detail yang membuat imajinasi para pembacanya jauh melompat ke dunia lain. Dunia, yang sengaja dibangun olehnya dalam novel ini. Menurut saya ini yang membuat novel ini berbeda dari novel-novel kebanyakan, dan perlu jam terbang tinggi untuk membangun hal seperti ini.

Novel Sirkus Pohon menceritakan potret kondisi masyarakat ramai bangsa ini tidak hanya melayu Belitong, selain itu Sirkus Pohon juga menjadi roman yang sangat berkelas menurut saya misalnya saja terdapat banyak sindiran yang secara gamblang terhadap kondisi ekonomi, social dan politik negeri kita saat ini diungkapkan dengan pemilihan eksekusi cerita yang begitu apik. Dalam novel ini imajinasi anda akan dibawa juga menyusuri tentang kesabaran menunggu cinta, tentang kesetiaan, yang tidak memandang harta, tahta atau bahkan rupa. Yang diramu dalam sentuhan romantisme cinta layaknya roman Romeo and Juliet. Bedanya Andrea Herata menambahkan sentuhan komedi khas melayu Belitong didalmnya yang akan membuat baper para pembacanya.

Karakter utama “Hob” dalam novel ini akan membuat anda baper tingkat dewa karena memiliki ketulusan cinta tak terukur, yang sudah pasti akan lekat bagi para pembacanya dan teringat ketika usai membaca novel ini, ada juga karakter Tara dan Tegar yang memiliki kesetiaan tak terukur pula. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya tetralogy laskar pelangi yang secara garis besar menceritakan tentang impian dan kerja keras, dalam karya terbarunya ini Sirkus Pohon selain mengusung tema impian dan kerja keras dia juga menambahkan beberapa intrik yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya tersebut.

Dan saya yakin ketika anda membaca buku ini kalian akan berdecak kagum pada plot dan semua dialog-dialog para tokoh dalam novel ini yang akan membuat anda semua berusaha menebak-nebak apa yang sebenarnya akan terjadi pada ending ceritanya. Untuk kekurangan novel ini. Well, menurut saya so far novel ini begitu keren dan imajinatif tetapi mungkin bagi saya merasa sedikit susah untuk mencerna analogi-analogi yang tak biasa untuk menggambarkan sesuatu dalam novel Sirkus Pohon ini. Akan tetapi menurut saya ini menjadi salah satu poin plus juga karena saya menjadi belajar memahami novel secerdas ini yang tidak mungkin diciptakan oleh sastrawan dengan jam terbang rendah.

At the end please don’t believe in everything what I’ve said in this review, masukilah Sirkus Pohonmu sendiri dan rasakan senasasinya.

Judul : Sirkus Pohon
Penulis : Andrea Hirata
Harga : Rp. 79,000
Penerbit : Bentang Pustaka
Halaman : 424 Halaman
Kategori : Novel Fiksi
Bahasa : Indonesia
No ISBN : 9786022914099

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Novel ini penuh letupan imajinasi yang akan membuat para pembaca senang menyusuri halaman demi halamannya.

    ReplyDelete