Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Suku Baduy

By Didy - 10/28/2017

Jembatan Bambu Suku Baduy

Yang saya sukai dari sebuah perjalanan adalah ketika memasuki pelosok-pelosok perkampungan, berbaur dengan warga lokal, menghirup udara bersihnya dan menikmati kekayaan alam Indonesia yang begitu luas dan tentu saja mengagumkan. Empat jam saya tempuh kurang lebih melewati jalan yang berlubang, keadaan jalanan yang berkelok-kelok, dan pemandanagn alam yang begitu sempurna untuk akhirnya bisa sampai ke gerbang Ciboleger yaitu pintu masuk utama untuk memasuki kawasan baduy luar ataupun baduy dalam.  Begitu sampai anda akan disambut dengan sekawanan tukang parkir, warga lokal yang menyediakan jasa antar hingga ke baduy dalam sekaligus membawakan barang bawaan anda. Setelah semua siap barulah perjalanan akan dimulai dari gerbang Ciboleger ini untuk kemudian berjalan memasuki gerbang kedua yang bertuliskan “Selamat Datang Di Baduy” ini artinya anda sudah memasuki area terluar dari pemukiman Suku Baduy tersebut. Begitu memasuki kawasan Baduy Luar ini kita semua akan disambut oleh anak-anak Baduy yang sedang asyik berkumpul. 

Rumah adat Suku Baduy luar yang kita jumpai setelah memasuki gerbang Ciboleger merupakan trek pertama dari kawasan paling luar kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk sampai ke jembatan bambu pemisah antara Baduy Luar dan Baduy Dalam, pada saat saya berkunjung ke Baduy saat itu saya ditemani seorang guide lokal yang merangkap menjadi porter untuk membawakan sebagian barang-barang kita. Kang Narsan namannya, sembari berjalan menyusuri rute yang luar biasa naik dan turun bukit beliau bercerita begitu banyak tentang Suku Baduy yang membuat saya semakin kagum dengan kesederhanaan yang mereka miliki. Dimana pada zaman sekarang ini kita tidak akan mungkin menemukannya di kehidupan kota-kota besar saat ini. Bayangkan, diantara kehidupan manusia-manusia di  kota-kota besar,masyarakat Suku Baduy tetap mempertahankan kesederhanaan hingga saat ini. Seperti misalnya mereka sangat melestarikan tradisi gotong-royong. 

Sepanjang perjalanan menuju perkampungan yang akan saya tinggali, kita disuguhi keindahan alam yang begitu asri dan menakjubkan. Selain itu deretan rumah-rumah warga baduy dengan bentuk yang khas menjadi daya tarik tersendiri buat saya. 

Lebih dekat dengan suku baduy
Pikukuh Baduy merupakan sebuah larangan adat yang menjadi pedoman bagi aktivitas masyarakat Baduy yang berlandaskan ajaran Sunda Wiwitan. Dimana masyarkat Baduy tidak diperbolehkan untuk mengubah dan melanggar segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan yang sudah ditentukan ini. Setiap aktivitas masyarakat Baduy harus berlandaskan rukun agama Sunda Wiwitan yang merupakan ajaran Agama Sunda Wiwitan yaitu ngukus, ngawalu, muja ngalaksa, ngalanjak, ngapundayan, dan ngeraksakeun pusaka. Ajaran tersebut harus ditaati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Suku Baduy yang dipimpin oleh seorang pu’un atau jaro semacam kepala desa dalam tatanan pemerintahan desa.

Potret Anak-Anak Suku Baduy
                Masyarakat Suku Baduy hidup sangat sederhana dengan menggantungkan hidup terutama dari bercocok tanam dan sangat tertutup terhadap budaya luar. Masyarakat Suku Baduy mendiami lereng pegunungan Kendeng dengan luas wilayah sekitar 5000 hektar. Dan secara administratif  terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kata Baduy sebenarnya bukan berasal dari mereka sendiri melainkan penduduk Banten Selatan yang sudah beragama islam lah yang memberikan sebutan ini, dimana mereka biasa menyebut “Baduy” kepada orang-orang kanekes yang tidak beralas kaki, pantang naik kendaraan ketika bepergian, pantang sekolah formal, dan suka berpindah-pindah sama halnya dengan suku Badui di Arab. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Suku Baduy adalah bahasa sunda. Masyarakat Suku Baduy sebenarnya terbagi atas tiga kelompok yaitu tangtu, panamping dan dangka. Meski demikian pada umumnya masyarakat luas hanya mengenal Baduy Luar dan Baduy Dalam saja.

Selain itu juga, ketentuan adat dalam Suku Baduy seperti larangan yang merupakan pedoman dan pandangan hidup yang mutlak harus dijalankan secara benar. Isi larangan adat masyarakat Baduy tersebut yaitu:
  •  Dilarang mengubah jalan air seperti membuat kolam ikan atau drainase
  •  Dilarang mengubah bentuk tanah seperti membuat sumur atau merapak tanah
  •   Dilarang masuk ke hutan titipan untuk menebang pohon
  •  Dilarang mengggunakan teknologi kimia
  •  Dilarang menanam budidaya perkebunan
  •  Dilarang memelihara binatang berkaki empat semisal kambing dan kerbau
  •  Dilarang berladang sembarangan
  •  Dilarang berpakaina sembarangan

Larangan-larangan seperti inilah yang membuat masyarakat Baduy begitu menjaga kondisi alam tempat tinggal mereka, karena mereka percaya apabila melanggar peraturan-peraturan tersebut akan terjadi karma buruk terhadap mereka.

Perbedaan yang paling mendasar antara Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah dalam menjalankan Pikukuh Baduy. Jika Baduy dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar. 

Masyarakat Baduy Luar sudah terkontaminasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diperkenankan ketua adat yang disebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Selain itu Baduy luar juga menerima tamu yang bersal dari luar Indonesia, mereka diperbolehkan mengunjungi hingga menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar.

Perbedaan lainnya juga dapat dilihat dari cara berpakaian mereka. Pakaian adat atau baju dalam keseharian Baduy Dalam tersirat dalam balutan warna putih yang mendominasi dan tidak boleh dijahit, warna putih tersebut melambangkan kesucian yang tidak terpengaruh dari pengaruh luar serta menggunakan ikat kepala berwarna putih, berbeda dengan Baduy Luar mereka menggunakan pakain berwarna hitam atau biru tua dengan ikat kepala berwarna biru tua bermotif batik. Sedangkan untuk para wanita dari suku Baduy mereka selalu menggunakan kain sarung berwarna biru tua bermotif khas batik baduy dan baju sejenis kebaya rapi perbedaannya hanya terletak pada wanita yang sudah menikah dan wanita yang masih lajang yaitu terletak pada kerah baju tersebut, dimana baju tersebut akan berkerah model terbuka untuk wanita yang sudah menikah dan kerah tertutup untuk wanita yang masih lajang, disamping itu suku baduy dalam juga tidak pernah memakai alas kaki walaupun bepergian kemanapun. Kaum lelaki juga selalu membawa golok atau bedog sebagai senjata mereka.

Mata pencaharian suku Baduy adalah berladang dan bertani. Alamnya yang subur dan berlimpah mempermudah suku baduy dalam menghasilkan kebutuhan sehari-hari mereka. Hasil berupa kopi, padi dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Suku Baduy. Tetapi dalam praktek berladang tersebut Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi dalam mengolah lahan mereka. Dikarenakan seperti sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa mereka dilarang untuk memelihara atau bahkan memperbolehkan hewan-hewan tersebut demi menjaga kelestarian alam.

Rumah-rumah disini dibangun dengan menggunakan batu-batu kali sebagai dasar pondasinya, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah-rumah disini terlihat seperti tidak sama tingginya. Selain itu, pada setiap rumah memiliki pengaturan ruangan didalam rumah yang berbeda-beda fungsinya. Bagian depan difungsikan sebagai ruang tamu dan sebagai tempat menenun untuk kaum perempuan, bagian tengah difungsikan sebagai ruang keluarga dan tempat tidur,  dan bagian belakang dari setiap rumah difungsikan sebagai dapur dan sebagai tempat untuk menyimpan bahan makanan dan hasil lahan selain mereka juga memiliki lumbung padi untuk menyimpan padi. Bagian atap rumah terbuat dari serat ijuk atau pohon kelapa dan semua ruangan tersebut dilapisa dengan anyaman bambu. Rumah Suku Baduy juga dibangun saling berhadap-hadapan dan selalu menghadap utara atau selatan, sinar matahari lah yang menjadi alasan kenapa rumah-rumah disini dibangun pada dua arah tersebut.

Rumah Adat Perkampungan Suku Baduy
Layaknya suku kebanyakan di Indonesia, disini juga terdapat tradisi kesenian di Suku Baduy dimana Suku Baduy mengenal budaya menenun yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka turun-temurun. Menenun dilakukan oleh kaum wanita yang telah diajarkan sejak usia dini dan juga membuat aksesoris misalnya gelang, kalung, anting, aneka tas dan ikat kepala. Ada mitos jika kaum  laki-laki tersentuh alat menenun yang terbuat dari kayu ini maka lelaki tersebut akan berubah perilakunya layaknya seorang perempuan. Tradisi menenun ini menghasilkan kain tenun yang begitu indah khas Suku Baduy, selain dipakai oleh mereka kain tenun tersebut juga diperjual-belikan untuk para wisatawan yang datang berkunjung.
Kami Diterima Begitu Hangat oleh Suku Baduy
Wilayah tempat tinggal Suku Baduy ini juga sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah Lebak sejak tahun 1990. Kawasan yang melintas dari Desa Ciboleger sampai Rangkasbitung ini sudah menjadi tempat bermukimnya Suku Baduy yang merupakan suku asli dari Provinsi Banten.

Nah, tunggu apalagi mari tengok sendiri keindahan alam tempat tinggal masyarakat Suku Baduy ini dan lihat sendiri keunikannya, meresakan sensasi terbebas dari penatnya lingkungan perkotaan pasti akan me-refresh pikiran kita setelahnya.

  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. Seneng banget bisa mengenal lebih dekat dengan suku badui... Saya banyak belajar dari artikel ini tentang kehidupan suku ini.

    ReplyDelete
  2. Iya bro, mereka begitu unik. Of course menambah pengetahuan Kita tentang budaya mereka apalagi bisa mengunjunginya langsung :)
    Anyway, thank you udah mampir nanti gue mampir blog mu juga ya.
    Semangaaat !!!

    ReplyDelete
  3. Sy mw tny soal pelihara hewan berkaki empat alias hewan ternak. Pasokan bahan makanan protein hewani mereka peroleh dari mana? Berternak kan hal umum, tapi mereka ini unik.

    Pertanyaan sy, apakah mereka tidak pernah makan daging?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka jarang makan daging sih, umumnya ikan2an sebagai protein hewani. Tapi Mereka paling demen ikan asin sama sarden sih 😁

      Delete
  4. Ya ampun dari dulu belum kesampaian main ke Baduy.
    Lumayan terobati lah kerinduan buat main ke Baduy lewat baca post ini. Makasih ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaelah Mbak ke Baduy dongs hahhaha. Masa udah keluar negeri tapi belum ke Baduy. Gak afdol nih 😂, barkabar kalau ke Baduy ya, biar bisa tak temenin 😁😁😁

      Delete